Ibu Sakit Jantung dan Kritis ditempatkan satu ruangan dengan ODSJ

0
127
Penulis: Kontributor Nunukan, Ahmad Zulfiqor, Editor: Khairina


TARAKAN
, KOMPAS.com
 – Seorang pengacara dari Kota  Tarakan, Kalimantan Utara, Mukhlis Ramlan melaporkan RSUD Tarakan dengan dugaan penelantaran, malpraktik, dan kelalaian.

Mukhlis Ramlan saat dihubungi, menuturkan ia akan mengawal laporan tersebut sampai tuntas.

Dia tidak terima, ibundanya, Megawati binti Muhammad Saleh (63) yang kritis dan butuh perawatan khusus akibat  sakit jantung, justru ditempatkan bersama orang dengan gangguan jiwa ( ODGJ) di RSUD Tarakan.

‘’Orang sakit jantung dikunci  satu ruangan dengan ODGJ, suhu AC dikasih di 16 derajat, remotenya dibawa perawat dan digembok dari luar, ini pelayanan apa?’’ujarnya emosional, Minggu (31/1/2021).

Saat dilarikan ke RSUD Tarakan 8 Januari 2021, ibunda Mukhlis mengalami serangan jantung, perawatan medis sempat dilakukan dokter.

Namun entah mengapa, keeseokan harinya, tiba tiba manajemen RSUD Tarakan memindahkannya ke bangsal Tulip yang ditempati seorang ODGJ perempuan.

Lebih mengejutkan, RSUD Tarakan memberitahukan bahwa ibundanya terpapar Covid-19 sehingga keluarga harus menjaga jarak dan mempercayakan sepenuhnya kepada tenaga medis.

‘’Sampai sekarang saya minta surat keterangan Covid-19, RSUD tidak kasih, itu sudah janggal, terus secara logika, apa iya tiba-tiba gila sampai ditempatkan bersama ODGJ? Rekam medis di RSUD Pertamedika atau RS Angkatan Laut Tarakan, tempat biasa ibu check up, jelas menyatakan sakit jantung,’’katanya.

Disiram air mineral oleh ODGJ

Saat ditempatkan di bangsal Tulip bersama ODGJ, keluarga hanya bisa melihat kondisi ibunda Mukhlis melalui layar monitor.

Terlihat kondisi lemah sang ibu yang hanya mampu melambaikan tangan dan pandangan sayu.

Saat itu, ODGJ tiba tiba bangun dan menyiramkan air mineral ke tubuh ibunda Mukhlis sampai basah kuyup.

‘’Adik saya video call saya, ibu disiram 4 botol air mineral ukuran 600 liter per botol, kebayang rasanya bagaimana? Orang sakit jantung, dikasih setelan AC paling dingin, disiram air, dan dikasih pakaian kurang layak? Jangan tanya gimana perasaan saya, sampai ubun-ubun emosi naik,’’katanya.

Saat Mukhlis masih berada di Jakarta, ibundanya sempat meneleponnya dan memohon segera dikeluarkan dari ruangan tersebut, karena tidak tahan.

Dengan perasaan hancur lebur, Mukhlis kemudian segera memesan tiket ke Tarakan pada 10 Januari 2021 dini hari. Namun, saat ia masih di pesawat, kabar duka menghampirinya, ibundanya meninggal dunia di RSUD Tarakan, sekitar pukul 04.00 Wita.

‘’Saya telepn RSUD, jangan kuburkan ibu saya, biar keluarga yang urus jenazahnya kalau memang RSUD tidak punya bukti kuat beliau terpapar Covid-19, mau gila rasanya ibu diperlakukan begitu,’’kata Mukhlis.

Digugat malpraktik

Setelah menguburkan jenazah ibundanya, Mukhlis menenangkan diri beberapa hari sebelum mendatangi Polres Tarakan.

Ada 4 aduan yang dijabarkan Mukhlis di hadapan polisi, masing masing dugaan pembunuhan sebagaimana diatur pada Pasal 338 KUHP, dugaan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain dan penganiayaan yang mengakibatkan kematian sebagaimana tercantum dalam Pasal 359 jo. Pasal 361 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 353 KUHP,

Mukhlis juga menuntut tanggung jawab Rumah Sakit sebagaimana diatur pada
 Pasal 46 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, serta mengadukan delik tanggung jawab dokter dan Perawat sebagaimana diatur dalam Pasal 190 ayat (1) dan 2 UU nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan).

‘’Saya adukan juga terkait maladministrasi ke ombudsman, anggaran pemda cukup besar, masa pelayanan seperti ini, biar nanti mereka yang lakukan penyelidikan,’’tambahnya.


Pemeriksaan sudah berjalan

Kasat Reskrim Polres Tarakan Iptu Muhammad Aldy mengatakan, laporan dari Mukhlis saat ini sudah dalam proses.

Polisi sudah memanggil sejumlah pihak RSUD Tarakan untuk dimintai keterangan, 

“Kami sudah panggil lebih lima orang sebagai saksi, semua dari pihak RSUD Tarakan,’’jawabnya.

Aldy mengatakan, pemeriksaan memang terkesan sedikit lebih lama karena Polres menetapkan aturan harus ada rapid test antigen.

Hal ini untuk mengantisipasi penularan di lingkungan Polres Tarakan sebagaimana terjadi beberapa waktu lalu.

‘’Mohon maaf kalau terkesan lamban, kita tidak mau lagi kecolongan macam kemarin, ada saksi kasus kita undang ternyata positif Covid-19, kita terus berproses untuk laporan saudara Mukhlis,’’jelasnya.

Sementara itu, Dirut RSUD Tarakan dr.Hasbi belum mau memberikan komentar. Saat dihubungi, Hasbi meminta menanyakan kasusnya ke polisi.

‘’Sudah di polisi, kalau mau tau perkembangannya tanyakan ke polisi, kami belum bisa berkomentar,’’jawabnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here